Rabu, 22 Januari 2014

Bukti Stabilitas Nilai Dinar dan Dirham


Selama bertahun-tahun kita dicekoki oleh teori inflasi dimana nilai mata uang terus menurun sehingga untuk membeli berbagai komoditas semakin tinggi harganya. Saya masih ingat sekitar tahun 90-an uang Rp. 500,- masih bisa membeli 10 pisang goreng namun kini uang yang sama hanya mampu membeli satu butir permen. 

Namun ada mata uang dimana selama ribuan tahun tidak pernah terkena dampak inflasi yaitu mata uang Islam yaitu Dinar (emas) dan Dirham (perak) dimana nilai Dinar sejak masa Rasulullah SAW hingga kini masih tetap sama yaitu masih tetap bisa membeli satu ekor kambing sedangkan Dirham identik dengan harga ayam. Di bawah ini akan diungkapkan beberapa sejarah yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits yang akan memperkuat bukti kestabilan nilai Dinar (emas) dan Dirham (perak). 


Untuk melihat nilai Dirham, mari kita lihat firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 19 : 
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangalah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. 

Dari ayat diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan berapa jumlahnya namun uang perak tersebut cukup untuk membeli makanan. Dengan uang perak yang ada sekarang (Januari 2014) harga 1 koin Dirham adalah Rp 65.000,- masih tetap cukup untuk membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. 

Coba bandingkan dengan rupiah, pada awal tahun 70-an harga setongkol jagung adalah Rp 5,- sekarang di tahun 2014 uang yang sama tidak akan sanggup untuk beli setongkol jagung bahkan Rp 5,- pada saat ini tidak akan bisa beli apapun karena sama sekali tidak ada nilainya. 

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat pada Hadits berikut : 
“Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau (H.R. Bukhari) 

Dari hadits tersebut bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang adil, tentu beliau tidak akan menyuruh Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Dengan uang emas yang ada pada saat ini (Januari 2014) harga 1 koin Dinar adalah Rp 2.015.000,- masih tetap bisa membeli 1 ekor kambing di belahan dunia manapun, artinya setelah lebih dari 14 abat daya beli Dinar tetap. 

Coba bandingkan dengan uang Rupiah dimana pada awal tahun 70-an harga 1 ekor kambing berkisar antara Rp 8.000,- namun sekarang setelah 40 tahun nilai uang yang sama bahkan tidak bisa membeli satu ekor ayam. 

Konsep ekonomi Islam adalah untuk kesejahteraan umat, ini berlaku untuk siapa saja baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, muslim atau non muslim siapapun dia. Meskipun saat ini Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) belum diterapkan sebagai mata uang namun cara berpikir Dinar, berorientasi dinar atau berorientasi emas dapat menyelamatkan masing-masing individu yang menerapkannya. 

Lebih bijak bagi kita untuk tidak menyandarkan masa depan pada tabungan uang kertas. Sangat sayang sekali kalau hasil jerih payah kita selama bekerja kemudian dimasa tua uang yang kita kumpulkan selama puluhan tahun ternyata sudah tidak bernilai lagi. Simpanlah uang untuk keperluan jangka panjang kita dalam bentuk emas.