Dirham adalah mata uang Islam yaitu koin perak murni dengan berat 2,975 gram. Uang perak ini selalu diidentikkan dengan ayam karena satu koin Dirham sejak 14 abad yang lalu hingga kini nilainya selalu setara dengan ayam tidak pernah terkena dampak inflasi (penurunan nilai mata uang).
Kesetaraan ini dapat kita lihat dari nasihat Khalifah Umar bin Khattab kepada sahabatnya tentang keuangan keluarga,
Pada tahun 2006 saya diangkat menjadi anggota Kepolisian di Daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan penghasilan pertama sekitar Rp. 1,2 juta perbulan. Setiap tahun gaji saya terus naik dan kini di tahun 2014 gaji saya sudah menjadi sekitar Rp. 3,6 juta. Namun dengan gaji 3 kali lipat dibandingkan tahun 2006 saya merasa tidak ada peningkatan kemakmuran selama 8 tahun saya bekerja. Hal ini karena setiap ada kenaikan gaji, harga-harga kebutuhanpun turut meningkat.
Habiburrahman El Shirazy yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Abik adalah seorang dai, novelis dan penyair yang karya-karyanya sudah terkenal hingga keluar negeri. Namanya makin melambung ketika karya Novelnya berjudul "Ayat-Ayat Cinta" tampil di layar kaca.
Sebagai alumnus Al Azhar, Kairo, Kang Abik mengaku pernah
mempelajari sejarah Dinar dan Dirham dalam satu mata kuliah khusus. Secara fisik beliau juga memiliki Dinar dan Dirham yang beliau beli dari Wakala di Solo dan Yogya. Oleh karena itu, saat Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara (Distributor Dinar Emas dan Dirham Perak di Indonesia) bersilaturahmi dengan Kang Abik, beliau tidak terlalu asing dengan Dinar Emas maupun Dirham Perak.
Dinar Islam tidaklah sama dengan uang dinar Iraq, dimana dinar Iraq adalah uang kertas biasa sedangkan Dinar Islam adalah uang emas 22 karat seberat 4,25 gram. Untuk mengenal lebih jauh mengenai Dinar Islam berikut akan diuraikan mengenainya yang dipetik dari buku tulisan Muhaimin Iqbal berjudul, "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham".
September 2013 lalu pemerintah federal Amerika menutup
sejumlah layanannya karena tidak ada anggaran untuk membayar gaji para
pegawainya setelah terjadi kebuntuan
negosiasi anggaran antara pemerintah dengan Congress-nya. Meskipun shutdown tersebut
akhirnya teratasi, tetapi kejadian ini telah menjadikan ekonomi dunia dalam
posisi di ujung tanduk di bawah sandra Amerika.
Banyak kalangan yang mengambil langkah antisipatif menghadapi masa depan dengan berbagai cara. Ada yang berusaha menyiapkan masa depan pendidikan anak dengan asuransi pendidikan, ternyata ketika anaknya masuk kuliah hasil asuransi bahkan tidak cukup untuk biaya pendaftaran. Ada yang sedikit demi sedikit menyisihkan uang untuk biaya haji dan ternyata tidak pernah cukup karena setiap tahun biaya haji mengalami kenaikan. Ada yang menyiapkan dana pensiun agar bisa menikmati hari tua, ternyata ketika sudah uzur, dana tersebut bahkan tidak cukup untuk membayar biaya kesehatannya.
Selama bertahun-tahun kita dicekoki oleh teori inflasi dimana nilai mata uang terus menurun sehingga untuk membeli berbagai komoditas semakin tinggi harganya. Saya masih ingat sekitar tahun 90-an uang Rp. 500,- masih bisa membeli 10 pisang goreng namun kini uang yang sama hanya mampu membeli satu butir permen.
Namun ada mata uang dimana selama ribuan tahun tidak pernah terkena dampak inflasi yaitu mata uang Islam yaitu Dinar (emas) dan Dirham (perak) dimana nilai Dinar sejak masa Rasulullah SAW hingga kini masih tetap sama yaitu masih tetap bisa membeli satu ekor kambing sedangkan Dirham identik dengan harga ayam.
Di bawah ini akan diungkapkan beberapa sejarah yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits yang akan memperkuat bukti kestabilan nilai Dinar (emas) dan Dirham (perak).